Zhernia's_niar

Just another WordPress.com weblog

Ciri dari Program Pengajaran Penjas Adaptif

Ciri dari Program Pengajaran Penjas Adaptif
Sifat program pengajaran pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah:
• Program Pengajaran Penjas adaptif disesuaikan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi siswa yang memakai kursi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiata tersebut bila aturan yang dikenakan kepada siswa yang berkursi roda dimodifikasi. Demikian dengan olahraga lainnya. Oleh karena itu pendidikan jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
• Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa. Kelainan pada Anak Luar Biasa bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pengajaran pendidikan jasmani adaptif harus dapat membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaannya.
• Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK. Untuk itu pendidikan jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progresif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan ABK akan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya. Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut diatas, maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan siswa memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa siswa berperilaku dan bersikap sebagai subyek bukan sebagai obyek dilingkungannya.
1. Tujuan Pendidikan Jasmani Adaptif
Sebagaimana dijelaskan diatas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptifdalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi ABK, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam buku yang berjudul “Pendidikan Jasmani Adaptif” memerinci tujuan pendididkan jasmani adaptif bagi ABK sebagai berikut:
1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.
3. Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
4. Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
5. Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olahraga yang dapat diminatinya sebagai penonton.
1. Modifikasi dalam Pendidikan Jasmani Adaptif
Bila dilihat masalah dari kelainannya, jenis ABK dikelompokkan menjadi:
• ABK yang memilik masalah dalam sensoris
• ABK yang memiki masalah dalam gerak dan motoriknya
• ABK yang memiliki masalah dalam belajar
• ABK yang memiliki masalah dalam tingkah laku
Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK. Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:
1. Modifikasi aturan main dari aktivitas pendidikan jasmani.
2. Modifikasi keterampilan dan tekniknya.
3. Modifikasi teknik mengajarnya.
4. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya.
Seorang ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama. ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan teraebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergantung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK.
Rencana pembelajaran Pendidikan Jasmani yang bisa dilaksanakan yaitu:
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Melakukan berbagai gerak dasar permainan dan olahraga dengan peraturan yang dimodifikasi. Dan nilai-nilai yang tergantung didalamnya. • Melakukan gerak dasar salah satu permainan bola kecil dengan koordinasi dan kontrol yang baik dengan peraturan yang dimodifikasi, serta nilai kerjasama, sportifitas, dan kejujuran.
• Melakukan gerakan dasar salah satu permainan bola besar dengan koordinasi dan kontrol yang baik dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, sportifitas, dan kejujuran.
• Melakukan koordinasi gerak dasar dalam teknik lari, lempar, dan lompat dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai semangat, sportifitas, percaya diri, dan kejujuran.
Melakukan kombinasi senam lantai dan senam ketangkasan dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. • Melakukan pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudah melaksanakan aktivitas senam.
Pada waktu kegiatan olahraga guru tidak bisa memaksakan mereka untuk mengikuti olahraga yang dilaksanakan, karena kemampuan mereka berbeda. Yang merasa dirinya bisa dia akan bosan dan pergi mengikuti kegiatan lain yang dia suka. Sebaliknya yang tidak mampu mengikutinya dia akan diam. Namun pada intinya olahraga yang dilakukan untuk kesenangan mereka . Dan olahraga yang sering dilakukan dikelas tersebut adalah jalan-jalan.
2.4 Fasilitas yang Digunakan dalam Kegiatan Belajar Mengajar Baik Didalam Maupun Diluar Kelas
Faslitas yang di gunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas cukup memadai. Seperti papan tulis, kapur tulis, meja, kursi, alat hitung (simpoa), buku-buku bergambar, puzzle bangunan,
Fasilitas yang digunakan dalam olahraga juga memadai,contohnya bola lempar yang berukuran kecil dari plastik, bola volley , bola sepak,

UPAYA SLB DALAM USAHA MENINGKATKAN KEMAMPUAN DIRI SISWA TUNAGRAHITA MELALUI PROGRAM BINA DIRI

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan SLB Dharma Bhakti Dharma Pertiwi dalam meningkatkan kemampuan diri siswa tunagrahita melalui Program Bina Diri. Program Bina Diri merupakan program yang khusus diberikan kepada anak tunagrahita yaitu mencakup suatu usaha yang dilakukan SLB C untuk mengembangkan kemampuan diri anak tunagrahita yaitu berupa latihan-latihan yang disesuaikan dengan keadaan anak tersebut. Program Bina Diri memiliki peran sentral dalam mengantarkan peserta didik dalam melakukan bina diri untuk dirinya sendiri, seperti merawat dan mengurus diri, menjaga keselamatan diri, komunikasi serta adaptasi lingkungan sesuai dengan kemampuannya. Pembelajaran bina diri diarahkan untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan bina diri untuk kebutuhan dirinya sendiri sehingga tidak sepenuhnya membebani orang lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, di mana prosedur penelitiannya bersifat menjelaskan, mengolah, menggambarkan dan menafsirkan hasil penelitian dengan susunan kata dan kalimat sebagai jawaban atas masalah yang diteliti. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan studi kepustakaan. Hasil analisa penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Upaya untuk meningkatkan kemampuan merawat dan mengurus diri pada siswa tunagrahita yang dilakukan cukup berhasil karena siswa tunagrahita telah mengalami perkembangan yang cukup baik dalam hal merawat dan mengurus dirinya sendiri, 2. Upaya untuk meningkatkan kemampuan menjaga keselamatan diri pada siswa tunagrahita cukup berhasil karena siswa tunagrahita telah mampu untuk mengenal bahaya dari api (kebakaran), 3. Upaya untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain pada siswa tunagrahita cukup berhasil karena siswa tunagrahita telah mampu berkomunikasi dengan orang lain secara lisan walau mereka belum mampu berkomunikasi dengan tulisan secara baik, 5. Upaya untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi di lingkungan sekolah pada siswa tunagrahita cukup berhasil karena siswa tunagrahita mampu melakukan tugas piket yang diberikan padanya. Kesimpulan penelitian ini yaitu upaya SLB Dharma Bhakti Dharma Pertiwi dalam usaha meningkatkan kemampuan diri siswa tunagrahita melalui Program Bina Diri cukup berhasil, karena dari 5 upaya yang dilakukan SLB untuk meningkatkan kemampuan diri siswa tunagrahita cukup berhasil walaupun masih ada sedikit kekurangannya dikarenakan keterbatasan pada anak tunagrahita tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, penulis dapat merekomendasikan beberapa saran antara lain : 1. Peran aktif orang tua serta kerjasama yang lebih baik dengan guru dalam meningkatkan kemampuan diri siswa tunagrahita, 2. Orang tua dan guru perlu untuk menanamkan kepercayaan diri sehingga anak-anak tunagrahita dapat mengambil peran didalam pergaulan sehari-hari, 3. Orang tua dan guru perlu melibatkan anak-anak sebaya yang normal untuk meningkatkan kepercayaan diri anak tunagrahita. 4. Orang tua yang memiliki anak tunagrahita perlu menyadari pentingnya peran SLB untuk perkembangan kemampuan diri anaknya.
Kata Kunci : Kemampuan Diri, Siswa Tunagrahita, Program Bina Diri
Faktor-faktor yang dapat menghambat interaksi anak tunanetra ketika berada di
sekolah yaitu:
1. Pengalaman buruk yang diterima sebelum berada di sekolah.
2. Mobilitas yang belum terlatih, sehingga memunculkan keraguan pada diri anak untuk
melakukan kontak sosial dan komunikasi.
3. Persepsi yang ditanamkan orang-orang terdekat terhadap kontak sosial.
4. Minat yang dimiliki anak tunanetra.
5. Peran individu lain di lingkungan sekitarnya terhadap kehadiran dirinya.

Interaksi sosial anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa juga dipengaruhi oleh
perbedaan kepribadian dan kecakapan yang dimiliki anak. Dalam hal ini, guru memiliki
peran yang sangat besar untuk terlibat dalam interaksi sosial anak tunanetra di
sekolah. Peran yang dilakukan guru yaitu, mengadakan hubungan dengan guru-guru lain,
teman-teman seusia dan orang lain yang ada disekitar lingkungan sekolah. Pengalaman
dalam berinteraksi di lingkungan rumah yang dibimbing orang tua, juga sangat
menentukan kepribadian dan kecakapan anak tunanetra pada saat berada di sekolah.

Sekolah memiliki norma-norma dan aturan-aturan yang berbeda dengan norma-norma dan
aturan-aturan yang berlaku di rumah. Di sekolah anak tunanetra akan dihadapkan pada
berbagai aturan dan disiplin yang berlaku pada lingkungannya. Masa transisi dari
orientasi lingkungan keluarga ke sekolah tidaklah mudah. Hal ini sering menimbulkan
masalah pada anak tunanetra. Ketidaksiapan mental anak tunanetra dalam menghadapi
lingkungan baru di sekolah atau kelompok lain yang berbeda, seringkali mengakibatkan
gagal dalam mengembangkan kemampuan sosialnya. Apabila kegagalan tersebut dihadapi
pada suatu kenyataan dan tantangan, maka hal ini biasanya menjadi modal utama dalam
menghadapi lingkungan yang baru. Namun jika kegagalan dihadapi sebagai suatu
ketidakmampuan, maka sikap-sikap ketidakberdayaan yang akan muncul menumpuk menjadi
sebuah rasa putus asa yang mendalam dan akhirnya menghindari kontak sosial.

Pengalaman sosial yang dimiliki seseorang dapat menentukan daya yang memungkinkan
seseorang dapat menguasai lingkungan, penguasaan diri atau hubungan antara keduanya.
Adanya kehilangan fungsi penglihatan pada anak akan mengakibatkan terjadinya
keterpisahan sosial. Anak dengan ketunanetraan seringkali mengalami kesulitan untuk
menyelaraskan tindakannya pada situasi yang ada. Keterbatasan kemampuan yang
dimiliki membuat anak tunanetra merasa terisolasi dari orang-orang normal, atau
dapat menimbulkan perasaan minder, bimbang, ragu, tidak percaya diri, jika berada
dalam situasi yang tidak dikenalnya.

Situasi dan aktivitas di sekolah bagi anak tunanetra yang hanya beberapa jam dalam
sehari, sesungguhnya menggantikan posisi keluarga. Peran orang tua diganti oleh
bapak/ibu guru, peran saudara diganti oleh teman-teman, dan sebagainya. Sedangkan
kontak sosial dan komunikasi di sekolah terjadi di dalam dan di luar kelas.
Interaksi yang terjadi di dalam kelas berlangsung antara guru dengan siswa, dan
siswa dengan siswa. Supaya kontak dan komunikasi berjalan lancar, maka setiap warga
sekolah harus memahami dalam situasi mana interaksi itu berlaku. Pemahaman dari
seluruh warga sekolah dapat membantu anak tunanetra untuk bisa melakukan kontak
sosial seperti yang diharapkan.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan
program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu anak tunanetra agar
mampu mengembangkan potensinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral,
spiritual, intelektual, emosional maupun sosial. Melalui program bimbingan,
pengajaran, dan latihan anak tunanetra mendapatkan perhatian khusus dalam hal
interaksi sosial di sekolah. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang besar, agar
anak tunanetra memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan individu lain yang
berada di sekitar sekolah. Guru membimbing anak tunanetra secara bertahap,
disesuaikan dengan dasar pengalaman anak tunanetra ketika berada dalam lingkungan
rumahnya.

Program bimbingan, pengajaran, dan latihan di sekolah yang berkaitan dengan
kebutuhan interaksi sosial anak tunanetra dapat diberikan guru dalam bentuk:
1. Bimbingan untuk mengenal situasi sekolah, baik dari sisi fisik bangunan maupun
dari sisi interaksi orang per-orang.
2. Menumbuhkembangkan perasaan nyaman, aman, dan senang dalam lingkungan barunya.
3. Melatih kepekaan indera-indera tubuh yang masih berfungsi sebagai bekal pemahaman
kognitif, afektif dan psikomotornya.
4. Melatih keberanian anak tunanetra untuk mengenal hal-hal baru, terutama hal-hal
yang tidak ia temui ketika berada di rumah.
5. Menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian dalam berkomunikasi dan melakukan
kontak.
6. Melatih mobilitas anak untuk mengembangkan kontak-kontak sosial yang akan
dilakukan dengan teman sebaya.
7. Memberikan pendidikan etika dan kesantunan berkaitan dengan adat dan kebiasaan
yang berlaku dalam suatu daerah. Pendidikan etika yang berlaku di rumah dapat
berbeda ketika anak tunanetra masuk dalam lingkungan baru dengan beragam kepribadian
individu.
8. Mengenalkan anak tunanetra dalam beragam karakter interaksi kelompok. Hal ini
dapat memberikan pemahaman bahwa tiap kelompok memiliki karakter interaksi yang
berbeda. Misalnya kelompok anak-anak kecil, kelompok remaja, atau kelompok orang
dewasa.

Interaksi sosial yang baik maupun yang kurang baik merupakan proses yang tidak
diturunkan bagi anak tunanetra, melainkan diperoleh melalui proses belajar,
bimbingan dan latihan. Pengaruh internal maupun eksternal yang positif dan negatif,
secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi anak tunanetra dalam
berinteraksi. Untuk menghindari terjadinya perilaku yang kurang baik pada anak
tunanetra dalam bergaul perlu ditanamkan kemauan yang kuat. Kemauan yang kuat pada
diri anak tunanetra dapat menimbulkan kepercayaan pada diri. Anak tunanetra juga
dapat membedakan antara perilaku yang baik dan kurang baik dalam berinteraksi dengan
lingkungannya melalui program pengembangan interaksi sosial.

May 31, 2010 - Posted by | Kuliah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: